— bulandini's stories

Film Review: “Happy-Go-Lucky”

 

HAPPY-GO-LUCKY

oleh Ayumurti Bulandini

happy-go-lucky


Senyum membuat dunia menjadi lebih berwarna.

Perempuan muda berbaju biru cerah dan bersepatu boot naik sepeda sambil tersenyum dan menikmati hari. Melempar salam pada orang-orang yang ditemui sepanjang jalan. Poppy Cross (Sally Hawkins) menikmati kehidupan dengan riang-gembira dan optimis. Keoptimisan terasa bagaikan memberikan cahaya matahari bagi orang-orang di sekelilingnya. Tinggal bersama sahabatnya, Zoe (Alexis Zegerman), di sebuah flat di London, kesabaran Poppy diuji saat bertemu dengan Scott (Eddie Marsan), instruktur mengemudi yang memberi Poppy les menyetir tiap Sabtu siang. Hari-hari Poppy diisi dengan mengajar murid-murid Sekolah Dasar, olahraga trampolin, kelas flamenco, dan berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Tiada hari tanpa sesuatu yang seru.

Sally Hawkins menampilkan akting luar biasa. Ia bisa terlihat ceria dan pada sisi lain bisa terlihat serius. Perubahan mood dapat tersampaikan dengan amat sangat baik, walau hanya dari sorot mata sekali pun. Dan ia melakukannya dengan alami. Bisa dilihat saat adegan Poppy belajar mengemudi di hari terakhir. Akting Sally Hawkins diganjar penghargaan Silver Bear sebagai Aktris Terbaik di ajang Berlinale 2008 (Festival Film Berlin). Aktingnya diimbangi akting Eddi Marsan, yang dengan sempurna menampilkan karakter yang mempunyai problem kemarahan.

Sutradara Mike Leigh (Vera Drake, All or Nothing) terkenal dengan ciri khasnya merekam “real life” dan itu tertangkap dengan cemerlang. Ia menghabiskan banyak waktu untuk improvisasi pengembangan karakter dengan memberikan banyak waktu latihan bersama bagi aktor-aktornya. Mereka diminta menggunakan kostum lengkap dan improvisasi langsung guna membangun karakter dan bereaksi alami dalam karakter itu. Kekhasannya ini menghantarnya memperoleh penghargaan Sutradara Terbaik di ajang New York Film Critics Circle Awards 2008.

Happy-Go-Lucky masuk ke dalam genre drama-komedi kontemporer. Terdapat hal-hal dan komentar lucu yang membuat kita tertawa melihatnya. Film ini juga bisa jadi alat bantu bercermin terhadap kehidupan urban yang kita jalani. Di mana spontanitas dan keramahan terkabutkan oleh segala persoalan kehidupan yang lambat-laun mempunyai andil mengikis keoptimisan; digantikan oleh kekakuan dan muka masam terhadap sesama. Film ini seakan mengingatkan bahwa menjalani hidup memang tak mudah, namun tak ada salahnya untuk bisa tersenyum dan menikmatinya karena memang seperti itulah kehidupan.

Verdict: Poppy unik dan film ini menyenangkan. 

Stars: 4 dari 5

Sutradara: Mike Leigh. Pemain: Sally Hawkins, Eddie Marsan, Alexis Zegerman, Sylvestra Le Touzel, Samuel Roukin. Durasi: 118 menit. Distributor: Miramax Films

 

 

[As published in FiRST Movie Magazine Indonesia – JAN ’09 edition]

5 comments
  1. avianto says: January 16, 200911:01 pm

    “kesabaran Poppy diuji saat bertemu dengan Scott (Eddie Marsan)…”

    Kenapa diuji? Kok tidak ada penjelasannya, apakah Scott gila? Sadis? Pemalu? atau apa?

    • Bulandini says: January 17, 20092:45 am

      Terimakasih untuk kritiknya. Awalnya, sayang untuk di-spoiler, hehe. Aku mengakui memang kurang penjelasan di situ. Jadi, Scott itu mempunyai masalah anger management. Ia kasar, tak sabaran dan berteriak pada Poppy. Terlihat ‘baik’ dari sisi luar, namun lambat-laun terlihat aslinya, karena di balik semua itu Scott memiliki rasa pesimistis dan insecure. And she could see it right through him.

  2. gilasinema says: January 17, 20098:12 am

    Kehadiran Scott fungsinya untuk menampilkan karakter yang kontras. Karena menurutku, film ini menampilkan sebuah kontra karakter.
    Karakter Poppy yang positif dan optimis dengan Scott dan beberapa orang lainnya yang cenderung negatif dan pesimis.
    So… be postive 🙂

    • Bulandini says: January 17, 20099:03 am

      yap, betul! terimakasih untuk komennya, gilasinema. salam kenal 🙂

  3. soul says: January 18, 20093:02 pm

    Dah lama ga nonton film 🙁

Submit comment