— bulandini's stories

Film Review: “Under the Tree”

Happy New Year everyone! After 3 weeks of hiatus, I’d better post this first. First post in 2009 and first review on my blog 🙂

UNDER THE TREE

oleh Ayumurti Bulandini

Cinta, pencarian, kehilangan, KEHIDUPAN…

Di bawah pohon, benih-benih pohon jatuh ke tanah, tertanam dan tumbuh. Ritual lahir, ada dan tiada menjadi esensi Under the Tree. Esensi yang tak gamblang terpapar di hadapan mata, namun hadir pada lapisan makna.

Under the Tree memperlihatkan kehidupan tiga perempuan yang semuanya mencari dan merasakan sesuatu yang hilang. Pertanyaan akan cinta dan keberadaan terpampang. Ketiganya berada di Pulau Dewata dengan alasan berbeda. Maharani (Marcella Zalianty) berkutat dengan kekecewaan atas kenyataan bahwa ia dilahirkan dari rahim seorang penari Bali yang menyerahkannya pada orangtua angkat. Ia pergi ke Bali untuk mencari asal-usulnya. Dewi (Ayu Laksmi), penyiar radio yang jago menyanyi, sedang menanti kelahiran. Bayi yang dikandungnya divonis memiliki kegagalan medis sehingga Dewi hanya memiliki 2 opsi, yakni mengugurkan kandungan atau tetap melahirkan bayi yang akan meninggal beberapa menit setelah kelahiran. Nian (Nadia Saphira), gadis remaja yang sedang liburan dan terlihat seperti “layangan lepas” dengan mencari kesibukan mengikuti seorang Bapak seniman pelukis telur ke mana ia pergi. Kekecewaan pada ayahnya yang kurang memberinya perhatian membuatnya berlaku seperti itu.

Rasa kecewa, bingung, ketidakjelasan, sedih terpendam, terasa dan tersampaikan pada saya. Saat menonton film ini, saya seakan melihat kehidupan mereka sekaligus lingkungan/masyarakat di mana mereka berada. Melihat Under the Tree (film Garin) berarti membuat diri bagaikan kertas putih bersih sebelum menerima kesan yang ditimbulkan oleh film ini. Melihat film Garin bagaikan melihat kebiasaan seseorang atau ciri suatu masyarakat di mana lokasi film berada. Garin Nugroho memfokuskan bahasa visual pada gestur tubuh (itu memang ciri khasnya), sehingga banyak adegan dengan pemeran utama menggunakan medium shot. Jika pun terdapat close up shot, tidak sampai ke big close up shot. Makna pun muncul di benak. Membuat kita berpikir, apakah menjadi hidup itu. Apakah kekecewaan lalu bisa menjadi alasan untuk hidup? Membuat berpikir, dengan bersyukur atas hidup mungkin bisa membuat kita menghargai kehidupan.

Dibagi dalam tiga segmen yang saling terajut (segmen: 3 Benih, Benih Jatuh, Benih Berbunga), kita seakan masuk melihat 3 fase: pengenalan tokoh dan apa yang terjadi, kekalutan mereka, dan penemuan. Penemuan yang menyesakkan atau bahkan revelasi yang menenangkan mereka. Under the Tree didanai oleh dana bantuan dari empat kota dunia. Pemutaran perdana dunianya diadakan pada JIFFEST 2008. Selain kisah perjalanan hidup tiga perempuan tersebut, Under the Tree menampilkan maestro seni tari Indonesia asal Bali, Ni Ketut Cenik (90 tahun), Ni Ketut Arini, Sang Ayu Ketut Muklen, Dr. Ayu Bulantrisna Jelantik, dan I Ketut Rina. Bisa dikatakan film ini pun memasukkan dokumentasi kehidupan para maestro ini, yang bisa jadi bermanfaat sebagai dari antropologi kesenian dunia. Di ajang FFI 2008, Under the Tree berhasil memperoleh 2 penghargaan di kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Aryani Kriegenburg Willems) dan Tata Artistik Terbaik (Budi Rianto Karung), dari 9 nominasi yang diperolehnya. Di teknis, color grading Under the Tree menampilkan nuansa monokromatik yang mengingatkan pada beberapa warna lukisan-lukisan Bali.

Under the Tree memberikan kita sesuatu yang lebih dari apa yang terlihat di visualnya. Pemaknaan lebih dalam di balik lapisan yang terlihat. Seperti film-film Garin Nugroho sebelumnya (terakhir Opera Jawa), ia memang cenderung menampilkan pemaknaan yang seperti itu. Dengan 16 film panjang di rentang 17 tahun karirnya sejak 1991, bisa dikatakan ia sangat produktif memproduksi karya. More of beautiful films, please.

Verdict: Duduk dan nikmati seperti apa adanya kehidupan.

Stars: 4 dari 5

Sutradara: Garin Nugroho. Pemain: Ayu Laksmi, Nadia Saphira, Marcella Zalianty, Ikranagara, Dwi Sasono, Aryani Kriegenburg Willems, Dr. Ayu Bulantrisna Jelantik. Durasi: 104 menit. Distributor: Oro-oro Film Arts


[As published in First Movie Magazine Indonesia – JAN ’09 edition]

4 comments
  1. avianto says: January 12, 200910:12 pm

    Hmm, bisa dikirim kah filmnya ke sini? Atau dijadikan digital format? Pengin liat euy.

    • Bulandini says: January 12, 200910:35 pm

      Film ini sedang putar di sinema-sinema sini. Belum ada digitalnya. Mudah-mudahan akan roadshow ke emrik, atau nanti tunggu dvd-nya ada. 🙂

  2. yuwonosigit says: January 13, 20095:17 am

    nonton ah, gitu ada kesmpatan 🙂

  3. puteri asterea says: January 13, 20095:48 am

    hi3,akhirnya dikeluarkan. makasih mbak,reviewnya menarik.. Jadi pengen nonton.

Submit comment