— bulandini's stories

Film Review: Merantau

MERANTAU

Perantauan dengan hati

oleh Ayumurti Bulandini

Kenaifan akan membunuhmu,” ujar Eric pada Yuda saat mereka berpisah, memutuskan jalan masing-masing. Namun pada akhirnya kenaifan dan kebaikan hati lah yang membawa Merantau pada kelasnya. Menampilkan pencak silat, seni bela diri asli Indonesia yang sebelumnya belum pernah diangkat ke dunia layar lebar, aksi laga ini didampingi cerita sederhana yang kaya serta akting prima para pemainnya.

Merantau mengantar perjalanan Yuda (Iko Uwais) menyambut inisiasi kedewasaan menurut tradisi Minangkabau, Sumatera Barat. Setiap anak laki-laki diharuskan merantau untuk belajar menghadapi hidup, dan diharapkan kembali untuk membangun kampung halamannya. Lika-liku perantauan Yuda ke Jakarta tak semulus yang ia bayangkan. Pemondokan yang telah tergusur membuatnya terpaksa bermalam di sebuah lahan konstruksi bangunan. Nasib lalu mempertemukannya dengan Adit (Yusuf Aulia) dan kakaknya, Astri (Sisca Jessica) yang terjebak masalah human trafficking yang dipimpin Ratger (Mads Koudal) dan tangan kanannya, Luc (Laurent Buson). Tak bisa berdiam diri melihat kakak-beradik ini ditimpa kemalangan, Yuda berusaha sekuat tenaga membantu dan memberikan yang terbaik bagi mereka.

Penuturan latar belakang keluarga serta tradisi merantau pada adegan-adegan awal, meski sedikit terasa lambat, memberi dasar kuat pada film serta pandangan Yuda dalam menjalani perantauan. Usahanya untuk tidak terlibat perkelahian, didukung dialog yang mengatakan bahwa silat itu bukan dipakai untuk aksi gagah-gagahan, memperlihatkan karakter Yuda. Namun saat dirinya terpojok dan perlu membela diri, keahlian silat Yuda langsung membuatnya terlihat sebagai seorang jagoan. Iko Uwais diberkahi karisma alami yang membuatnya terlihat membumi sekaligus berbahaya saat ditantang berduel. Sorot tajam mata saat fokus menghadapi bahaya/duel, memunculkan sisi lain karakter Yuda. Aksi silat Yuda dengan Eric (Yayan Ruhian) sesama pesilat Harimau menjadi salah satu laga terbaik yang dihadirkan film ini. Pengambilan gambar dengan sudut kamera medium hingga long shot memperlihatkan keindahan gerakan-gerakan pencak silat. Tak hanya itu, sisi lain silat yang bisa mendatangkan maut pun sangat terasa.

Akting para pemain Merantau patut diacungi jempol. Gabungan pemain lama dan pemain baru tetap bisa menghasilkan kualitas akting terbaik, didukung jalinan cerita serta dialog kuat. Christine Hakim sebagai ibu Yuda tak perlu dipungkiri kehandalannya. Akting bersinar diperlihatkan Iko Uwais sebagai pendatang baru. Gelar juara pencak silat nasional yang disandang (dalam dunia nyata) ternyata tak menutupi kemampuan barunya dalam berakting. Diimbangi akting Sisca Jessica dan Yusuf Aulia yang sama-sama memulai debut mereka di layar lebar. Mads Koudal (Bleed with Me, Footsteps), aktor Denmark yang berperan sebagai Ratger pun perlu diacungi jempol. Meyakinkan sebagai pebisnis ilegal berhati dingin yang ‘gila’. Akting komikal muncul pada karakter Johni (Alex Abbad), pemilik Go Go Club dan supplier gadis-gadis muda. Coba lihat adegan saat ia membawakan sekelompok tukang pukul ke hadapan Ratger, mampu membuat sudut-sudut bibir naik ke atas.

Sutradara Gareth Evans (Footsteps) berhasil menangkap dan memunculkan keindahan pencak silat didampingi cerita kuat. Silat tidak hanya tampil sebagai menu utama, namun juga hadir sebagai reaksi dari situasi yang muncul. Ditulis sendiri oleh Gareth, inspirasi cerita Merantau didapatnya saat menyutradarai pembuatan dokumenter Land of Moving Shadows: Pencak Silat, The Martial Arts of Indonesia (2007). Dalam proyek itu jugalah ia bertemu bintang filmnya, Iko Uwais.

Gareth dengan pas memunculkan momen-momen komedi situasi yang bisa mencairkan ketegangan tanpa terjebak menjadi dagelan. Keputusannya mengambil gerakan koreografi silat dalam satu rangkaian tanpa dipotong menambah kedinamisan film ini. Hal ini juga didukung dengan pemakaian alat steadicam dan jimmy jib yang memungkinan pengambilan gambar dengan sudut pandang tidak biasa. Kualitas gambar dan warna, serta ilustrasi musik yang dipakai turut menjadi unsur penting dalam film ini.

Tempo cerita yang makin cepat mulai paruh film hingga akhir, ditambah keingintahuan terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya, membuat penonton larut dalam derap film ini. Penutup yang berani semakin membuat Merantau jadi salah satu film yang patut dinikmati penonton film Tanah Air. Tagline ‘In a city of violence, one man will stand up and fight’ terasa tepat disandingkan bagi Yuda dan Merantau. [AB]

Verdict:

‘One film will stand up and fight’. Very GOOD!

Stars:

4 of 5

Sutradara: Gareth Huw Evans

Pemain: Iko Uwais, Sisca Jessica, Yusuf Aulia, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Alex Abbad, Mads Koudal, Laurent Buson

Durasi: 134 menit (Indonesia: Director’s Cut)

[As published in FiRST Movie Magazine Indonesia – August 2009 edition]

1 comment
  1. yuwonosigit says: August 16, 200911:14 pm

    ‘Coba lihat adegan saat ia membawakan sekelompok tukang pukul ke hadapan Ratger, mampu membuat sudut-sudut bibir naik ke atas.’

    adegan ini mah bikin aku terpingkal-pingkal ngeliat tampang si joni :p

    salut buat Merantau Films, semoga makin sukses dgn project berikutnya 😀

Submit comment