— bulandini's stories

Archive
film

You have swooped me away.

Protegido por direitos autorais

 

begin-stillphoto

Beginners’ Theme Suite

 

(and I am one of the half who believes in magic)

Read More

Tristan: He told me that my true love…

[Yvaine begins to glow]

Tristan: …was right in front of my eyes. And he was right.

[they kiss]

 

This makes me want to see the film and read the book again.
‘Stardust’ by Neil Gaiman.

Rule the World – OST. Stardust

Read More

MERANTAU

Perantauan dengan hati

oleh Ayumurti Bulandini

Kenaifan akan membunuhmu,” ujar Eric pada Yuda saat mereka berpisah, memutuskan jalan masing-masing. Namun pada akhirnya kenaifan dan kebaikan hati lah yang membawa Merantau pada kelasnya. Menampilkan pencak silat, seni bela diri asli Indonesia yang sebelumnya belum pernah diangkat ke dunia layar lebar, aksi laga ini didampingi cerita sederhana yang kaya serta akting prima para pemainnya.

Merantau mengantar perjalanan Yuda (Iko Uwais) menyambut inisiasi kedewasaan menurut tradisi Minangkabau, Sumatera Barat. Setiap anak laki-laki diharuskan merantau untuk belajar menghadapi hidup, dan diharapkan kembali untuk membangun kampung halamannya. Lika-liku perantauan Yuda ke Jakarta tak semulus yang ia bayangkan. Pemondokan yang telah tergusur membuatnya terpaksa bermalam di sebuah lahan konstruksi bangunan. Nasib lalu mempertemukannya dengan Adit (Yusuf Aulia) dan kakaknya, Astri (Sisca Jessica) yang terjebak masalah human trafficking yang dipimpin Ratger (Mads Koudal) dan tangan kanannya, Luc (Laurent Buson). Tak bisa berdiam diri melihat kakak-beradik ini ditimpa kemalangan, Yuda berusaha sekuat tenaga membantu dan memberikan yang terbaik bagi mereka.

Penuturan latar belakang keluarga serta tradisi merantau pada adegan-adegan awal, meski sedikit terasa lambat, memberi dasar kuat pada film serta pandangan Yuda dalam menjalani perantauan. Usahanya untuk tidak terlibat perkelahian, didukung dialog yang mengatakan bahwa silat itu bukan dipakai untuk aksi gagah-gagahan, memperlihatkan karakter Yuda. Namun saat dirinya terpojok dan perlu membela diri, keahlian silat Yuda langsung membuatnya terlihat sebagai seorang jagoan. Iko Uwais diberkahi karisma alami yang membuatnya terlihat membumi sekaligus berbahaya saat ditantang berduel. Sorot tajam mata saat fokus menghadapi bahaya/duel, memunculkan sisi lain karakter Yuda. Aksi silat Yuda dengan Eric (Yayan Ruhian) sesama pesilat Harimau menjadi salah satu laga terbaik yang dihadirkan film ini. Pengambilan gambar dengan sudut kamera medium hingga long shot memperlihatkan keindahan gerakan-gerakan pencak silat. Tak hanya itu, sisi lain silat yang bisa mendatangkan maut pun sangat terasa.

Akting para pemain Merantau patut diacungi jempol. Gabungan pemain lama dan pemain baru tetap bisa menghasilkan kualitas akting terbaik, didukung jalinan cerita serta dialog kuat. Christine Hakim sebagai ibu Yuda tak perlu dipungkiri kehandalannya. Akting bersinar diperlihatkan Iko Uwais sebagai pendatang baru. Gelar juara pencak silat nasional yang disandang (dalam dunia nyata) ternyata tak menutupi kemampuan barunya dalam berakting. Diimbangi akting Sisca Jessica dan Yusuf Aulia yang sama-sama memulai debut mereka di layar lebar. Mads Koudal (Bleed with Me, Footsteps), aktor Denmark yang berperan sebagai Ratger pun perlu diacungi jempol. Meyakinkan sebagai pebisnis ilegal berhati dingin yang ‘gila’. Akting komikal muncul pada karakter Johni (Alex Abbad), pemilik Go Go Club dan supplier gadis-gadis muda. Coba lihat adegan saat ia membawakan sekelompok tukang pukul ke hadapan Ratger, mampu membuat sudut-sudut bibir naik ke atas.

Sutradara Gareth Evans (Footsteps) berhasil menangkap dan memunculkan keindahan pencak silat didampingi cerita kuat. Silat tidak hanya tampil sebagai menu utama, namun juga hadir sebagai reaksi dari situasi yang muncul. Ditulis sendiri oleh Gareth, inspirasi cerita Merantau didapatnya saat menyutradarai pembuatan dokumenter Land of Moving Shadows: Pencak Silat, The Martial Arts of Indonesia (2007). Dalam proyek itu jugalah ia bertemu bintang filmnya, Iko Uwais.

Gareth dengan pas memunculkan momen-momen komedi situasi yang bisa mencairkan ketegangan tanpa terjebak menjadi dagelan. Keputusannya mengambil gerakan koreografi silat dalam satu rangkaian tanpa dipotong menambah kedinamisan film ini. Hal ini juga didukung dengan pemakaian alat steadicam dan jimmy jib yang memungkinan pengambilan gambar dengan sudut pandang tidak biasa. Kualitas gambar dan warna, serta ilustrasi musik yang dipakai turut menjadi unsur penting dalam film ini.

Tempo cerita yang makin cepat mulai paruh film hingga akhir, ditambah keingintahuan terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya, membuat penonton larut dalam derap film ini. Penutup yang berani semakin membuat Merantau jadi salah satu film yang patut dinikmati penonton film Tanah Air. Tagline ‘In a city of violence, one man will stand up and fight’ terasa tepat disandingkan bagi Yuda dan Merantau. [AB]

Verdict:

‘One film will stand up and fight’. Very GOOD!

Stars:

4 of 5

Sutradara: Gareth Huw Evans

Pemain: Iko Uwais, Sisca Jessica, Yusuf Aulia, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Alex Abbad, Mads Koudal, Laurent Buson

Durasi: 134 menit (Indonesia: Director’s Cut)

[As published in FiRST Movie Magazine Indonesia – August 2009 edition]

Read More

Forgot to upload this one. Hope it’s still on 😉

SLUMDOG MILLIONAIRE

oleh Ayumurti Bulandini

latika2

 

“Is that your final answer?”

Kalimat tanya yang tentu tak asing lagi. Kuis televisi dengan banyak penggemar di Indonesia ini pun menjadi fenomena di lebih 20 negara dunia, termasuk India. Slumdog Millionaire memotret kaum miskin India dengan kehidupan yang keras. Kekontrasan ditampilkan di tengah globalisasi pada negara bersungai Gangga. Di negara yang masyarakatnya terlihat hidup nyaman dengan mobil mahal, rumah mewah dan karakter bergelimang harta, seperti yang terlihat pada umumnya film-film Bollywood, ternyata masih banyak bertebaran kehidupan miskin di sudut kota Mumbai. Fakta yang nyata di India (mengingatkan pada Jakarta, kan?).

Tampil dengan cerita serta naskah solid dan menarik, Slumdog Millionaire berhasil merebut hati kita sedikit demi sedikit namun pasti. Editing prima, musik unik pemompa adrenalin, akting meyakinkan dan penyutradaraan hebat, tak heran Slumdog Millionaire berjaya. Dari 10 nominasi Oscar yang diterimanya, 8 penghargaan di kategori bergengsi berhasil direbut. Sungguh pantas gelar Best Motion Picture of the Year disandang. Kemenangan ini menambah jajaran penghargaan dengan 42 kemenangan dan 36 nominasi lainnya, termasuk Audience Award di Toronto Film Festival 2008 saat pemutaran perdana dunia-nya.

Jika Anda anggap ini film (produksi) India, maka Anda salah besar. Film ini bukan produksi India, melainkan film berlatar budaya India yang diproduksi oleh Inggris. Pengamatan jujur dari sudut pandang Boyle memberi kita pandangan baru terhadap kehidupan di India. Tilik pula komposisi musiknya yang diciptakan A.R. Rahman. Dahsyat dan penuh energi. Amalgam unik antara musik Timur (India) dan Barat (rap oleh M.I.A.) tercampur dengan sempurna. Unsur musik tradisional dan modern hadir berdampingan tanpa mematikan satu sama lain, memunculkan nuansa baru tanpa batas. Indah penuh gerak. Keberhasilan ini langsung menyabet 2 gelar Oscar untuk Best Achievement in Music Written for Motion Pictures in Original Score serta Original Song (“Jai Ho”). Sinematografi tampil tanpa cela. Memotret keindahan dan kekumuhan India dengan komposisi indah. Ciri khas Boyle dengan gaya editing cepat pun muncul di sini.

Danny Boyle (Trainspotting, 28 Days Later, Sunshine) dengan cerdas menggabungkan jalan cerita dengan acara kuis televisi yang mendunia. Jalinan plot beralur maju-mundur tampil rapi dan wajar. Terasa wajar sewajar kesadaran kita terhadap unsur peruntungan yang bisa hadir 50-50 dalam kehidupan. Juga kesadaran tidak semuanya akan berhasil atau berakhir bahagia. Menyaksikan kisah ini serta-merta kita tak dapat menolak bahwa harapan memang ada, sekecil apapun itu. Dan mungkin saja, suatu saat segalanya akan memiliki akhir berbeda. Slumdog Millionaire menceritakan impian demi memperoleh kehidupan yang lebih baik. Sebuah harapan akan keindahan di tengah carut-marutnya fakta kehidupan yang keras.

Kakak-beradik Jamal Malik (Dev Patel) dan Salim Malik (Madhur Mittal) ditampilkan memiliki dua karakter yang berlawanan. Jamal memiliki keteguhan hati dan jujur, sedangkan Salim menemukan kenyamanan dalam dunia hitam yang keras. Keduanya saling mentolerir satu sama lain hingga suatu kejadian memisahkan keduanya. Pahitnya kehidupan mulai mereka rasakan sejak kecil saat Ibu mereka wafat akibat serangan kaum Hindu pada kaum Muslim India. Sejak saat itu mereka hidup berpindah-pindah tempat, bertiga bersama Latika, anak perempuan yang juga kehilangan keluarganya.

Kehidupan Jamal diceritakan secara flashback sesuai dengan urutan ketepatannya menjawab pertanyaan kuis. Ketepatan yang didapatnya dari pengalaman hidup. Kita pun akhirnya mengetahui motif asli Jamal mengikuti kuis tersebut. Bersusah-payah menjalani kerasnya hidup, satu hal yang tak bisa hilang dari Jamal, kenangannya pada Latika (Freida Pinto). Sebuah kenangan yang tidak pernah dilepaskannya. Sepintas hal ini nampak seperti roman picisan, tapi siapa yang tak luluh hatinya dihadapkan pada keteguhan hati yang begitu besar? Meski begitu, saat momen kasih itu muncul di permukaan, penonton telah bersimpati pada Jamal. Hati pun dengan sukacita turut berharap agar segala kebaikan yang ada dunia mendukung pemuda miskin Mumbai ini untuk memperoleh kesempatan sebesar apapun yang mungkin didapatnya. Sebuah daya tarik universal yang melampaui beragam bahasa.

Verdict: ‘Milyuner kumuh’ yang hebat!

 Stars: 5 dari 5

 

Sutradara: Danny Boyle. Pemain: Dev Patel, Freida Pinto, Madhur Mittal, Irrfan Khan, Anil Kapoor. Durasi: 120 menit. Distributor: Pathé

 

[As published in FiRST Movie Magazine Indonesia – MAR ’09 edition]

Read More

 

HAPPY-GO-LUCKY

oleh Ayumurti Bulandini

happy-go-lucky


Senyum membuat dunia menjadi lebih berwarna.

Perempuan muda berbaju biru cerah dan bersepatu boot naik sepeda sambil tersenyum dan menikmati hari. Melempar salam pada orang-orang yang ditemui sepanjang jalan. Poppy Cross (Sally Hawkins) menikmati kehidupan dengan riang-gembira dan optimis. Keoptimisan terasa bagaikan memberikan cahaya matahari bagi orang-orang di sekelilingnya. Tinggal bersama sahabatnya, Zoe (Alexis Zegerman), di sebuah flat di London, kesabaran Poppy diuji saat bertemu dengan Scott (Eddie Marsan), instruktur mengemudi yang memberi Poppy les menyetir tiap Sabtu siang. Hari-hari Poppy diisi dengan mengajar murid-murid Sekolah Dasar, olahraga trampolin, kelas flamenco, dan berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Tiada hari tanpa sesuatu yang seru.

Sally Hawkins menampilkan akting luar biasa. Ia bisa terlihat ceria dan pada sisi lain bisa terlihat serius. Perubahan mood dapat tersampaikan dengan amat sangat baik, walau hanya dari sorot mata sekali pun. Dan ia melakukannya dengan alami. Bisa dilihat saat adegan Poppy belajar mengemudi di hari terakhir. Akting Sally Hawkins diganjar penghargaan Silver Bear sebagai Aktris Terbaik di ajang Berlinale 2008 (Festival Film Berlin). Aktingnya diimbangi akting Eddi Marsan, yang dengan sempurna menampilkan karakter yang mempunyai problem kemarahan.

Sutradara Mike Leigh (Vera Drake, All or Nothing) terkenal dengan ciri khasnya merekam “real life” dan itu tertangkap dengan cemerlang. Ia menghabiskan banyak waktu untuk improvisasi pengembangan karakter dengan memberikan banyak waktu latihan bersama bagi aktor-aktornya. Mereka diminta menggunakan kostum lengkap dan improvisasi langsung guna membangun karakter dan bereaksi alami dalam karakter itu. Kekhasannya ini menghantarnya memperoleh penghargaan Sutradara Terbaik di ajang New York Film Critics Circle Awards 2008.

Happy-Go-Lucky masuk ke dalam genre drama-komedi kontemporer. Terdapat hal-hal dan komentar lucu yang membuat kita tertawa melihatnya. Film ini juga bisa jadi alat bantu bercermin terhadap kehidupan urban yang kita jalani. Di mana spontanitas dan keramahan terkabutkan oleh segala persoalan kehidupan yang lambat-laun mempunyai andil mengikis keoptimisan; digantikan oleh kekakuan dan muka masam terhadap sesama. Film ini seakan mengingatkan bahwa menjalani hidup memang tak mudah, namun tak ada salahnya untuk bisa tersenyum dan menikmatinya karena memang seperti itulah kehidupan.

Verdict: Poppy unik dan film ini menyenangkan. 

Stars: 4 dari 5

Sutradara: Mike Leigh. Pemain: Sally Hawkins, Eddie Marsan, Alexis Zegerman, Sylvestra Le Touzel, Samuel Roukin. Durasi: 118 menit. Distributor: Miramax Films

 

 

[As published in FiRST Movie Magazine Indonesia – JAN ’09 edition]

Read More

Happy New Year everyone! After 3 weeks of hiatus, I’d better post this first. First post in 2009 and first review on my blog 🙂

UNDER THE TREE

oleh Ayumurti Bulandini

Cinta, pencarian, kehilangan, KEHIDUPAN…

Di bawah pohon, benih-benih pohon jatuh ke tanah, tertanam dan tumbuh. Ritual lahir, ada dan tiada menjadi esensi Under the Tree. Esensi yang tak gamblang terpapar di hadapan mata, namun hadir pada lapisan makna.

Under the Tree memperlihatkan kehidupan tiga perempuan yang semuanya mencari dan merasakan sesuatu yang hilang. Pertanyaan akan cinta dan keberadaan terpampang. Ketiganya berada di Pulau Dewata dengan alasan berbeda. Maharani (Marcella Zalianty) berkutat dengan kekecewaan atas kenyataan bahwa ia dilahirkan dari rahim seorang penari Bali yang menyerahkannya pada orangtua angkat. Ia pergi ke Bali untuk mencari asal-usulnya. Dewi (Ayu Laksmi), penyiar radio yang jago menyanyi, sedang menanti kelahiran. Bayi yang dikandungnya divonis memiliki kegagalan medis sehingga Dewi hanya memiliki 2 opsi, yakni mengugurkan kandungan atau tetap melahirkan bayi yang akan meninggal beberapa menit setelah kelahiran. Nian (Nadia Saphira), gadis remaja yang sedang liburan dan terlihat seperti “layangan lepas” dengan mencari kesibukan mengikuti seorang Bapak seniman pelukis telur ke mana ia pergi. Kekecewaan pada ayahnya yang kurang memberinya perhatian membuatnya berlaku seperti itu.

Rasa kecewa, bingung, ketidakjelasan, sedih terpendam, terasa dan tersampaikan pada saya. Saat menonton film ini, saya seakan melihat kehidupan mereka sekaligus lingkungan/masyarakat di mana mereka berada. Melihat Under the Tree (film Garin) berarti membuat diri bagaikan kertas putih bersih sebelum menerima kesan yang ditimbulkan oleh film ini. Melihat film Garin bagaikan melihat kebiasaan seseorang atau ciri suatu masyarakat di mana lokasi film berada. Garin Nugroho memfokuskan bahasa visual pada gestur tubuh (itu memang ciri khasnya), sehingga banyak adegan dengan pemeran utama menggunakan medium shot. Jika pun terdapat close up shot, tidak sampai ke big close up shot. Makna pun muncul di benak. Membuat kita berpikir, apakah menjadi hidup itu. Apakah kekecewaan lalu bisa menjadi alasan untuk hidup? Membuat berpikir, dengan bersyukur atas hidup mungkin bisa membuat kita menghargai kehidupan.

Dibagi dalam tiga segmen yang saling terajut (segmen: 3 Benih, Benih Jatuh, Benih Berbunga), kita seakan masuk melihat 3 fase: pengenalan tokoh dan apa yang terjadi, kekalutan mereka, dan penemuan. Penemuan yang menyesakkan atau bahkan revelasi yang menenangkan mereka. Under the Tree didanai oleh dana bantuan dari empat kota dunia. Pemutaran perdana dunianya diadakan pada JIFFEST 2008. Selain kisah perjalanan hidup tiga perempuan tersebut, Under the Tree menampilkan maestro seni tari Indonesia asal Bali, Ni Ketut Cenik (90 tahun), Ni Ketut Arini, Sang Ayu Ketut Muklen, Dr. Ayu Bulantrisna Jelantik, dan I Ketut Rina. Bisa dikatakan film ini pun memasukkan dokumentasi kehidupan para maestro ini, yang bisa jadi bermanfaat sebagai dari antropologi kesenian dunia. Di ajang FFI 2008, Under the Tree berhasil memperoleh 2 penghargaan di kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Aryani Kriegenburg Willems) dan Tata Artistik Terbaik (Budi Rianto Karung), dari 9 nominasi yang diperolehnya. Di teknis, color grading Under the Tree menampilkan nuansa monokromatik yang mengingatkan pada beberapa warna lukisan-lukisan Bali.

Under the Tree memberikan kita sesuatu yang lebih dari apa yang terlihat di visualnya. Pemaknaan lebih dalam di balik lapisan yang terlihat. Seperti film-film Garin Nugroho sebelumnya (terakhir Opera Jawa), ia memang cenderung menampilkan pemaknaan yang seperti itu. Dengan 16 film panjang di rentang 17 tahun karirnya sejak 1991, bisa dikatakan ia sangat produktif memproduksi karya. More of beautiful films, please.

Verdict: Duduk dan nikmati seperti apa adanya kehidupan.

Stars: 4 dari 5

Sutradara: Garin Nugroho. Pemain: Ayu Laksmi, Nadia Saphira, Marcella Zalianty, Ikranagara, Dwi Sasono, Aryani Kriegenburg Willems, Dr. Ayu Bulantrisna Jelantik. Durasi: 104 menit. Distributor: Oro-oro Film Arts


[As published in First Movie Magazine Indonesia – JAN ’09 edition]

Read More

Tonight I’m gonna have myself a real good time
I feel alive
And the world I’ll turn it inside out yeah
I’m floating around in ecstasy
So don’t stop me now
Don’t stop me
’cause I’m having a good time
Having a good time

(Don’t Stop Me Now – QUEEN)

Today is my birthday! The good thing about birthday is when your family and friends whose dear to you could share it with you. Also the good vibe of the day makes me smile all the time since I woke up this morning, err corrected…, since last night 🙂

Last night I went to see Riri Riza’s newest film 3 Hari Untuk Selamanya at Blitz Jakarta. Before we saw the film, we listened to the live performance of Float, the music group for the film soundtrack. They played good. I know their music since 2005 and really enjoy listening to it. The film was good, especially the script. It was a kind of festival film type, yet we could relate with the story. The story itself is extraordinary for indonesian people since it tells about sex attraction in a straightforward way, beatifully made ofcourse. Ah, I should write a totally different blog entry to review the film, hehe.

Anyway, I spent the first hour of June 13th on the way back home after seeing a good movie, went with good friends, had a good sleep. I plan to have a good time today and I will 🙂

Read More

‘Desire’ was my favorite song from the music group Pure Saturday back in my uni time. The album was introduced to me by a dear friend. He got it as a bonus from HAI magazine. After listened to it, I bought my own. I had the first album cover for public, my friend got the special edition cover. I like the group ever since the first album. It was 10 years ago. Now, it is retrieved by the film 6:30 because it is the main theme song.
I like the song because of the music and because of the lyric. Describes the feeling of desire toward someone, yet with uncertain… things 😛

the lyric…

Desire – Pure Saturday

Yesterday I found my self alone
In the dark and no one else
Then you came to me at night
And said “don’t worry it’s alright”

I want you to hold me in your soul
It makes me easy
Makes me fine
But how that dream will be come true
Will it be tomorrow, I don’t know

I can’t say anything
Or bring you something
I hope you can feel this
My desire…

Everything I want to say to you
Is wrapped around in my mouth
Come into my door don’t be afraid
I’ll catch you back around your head

I can’t say anything
Or bring you something
I hope you can feel this
My desire…

——————

Desire means…

 

de·sire Pronunciation (d-zr)

 

tr.v. de·sired, de·sir·ing, de·sires

1. To wish or long for; want.
2. To express a wish for; request.
n.
1. A wish or longing.
2. A request or petition.
3. The object of longing
4. Sexual appetite; passion.

What do you desire?

 

Read More

I went to Bandung on Sunday. I was going to meet up with Novi & Steve there. They spent the weekend there. Before I met them, I went to ITB to see Artepolis. At the Architecture Gallery, I found this huge map of Bandung city and there were lots of ‘post its’ stuck on it. I remember, once I had put one those ‘post it’ few months before, and I was courious whether the ‘Tranquil Picture’ was still there. So I checked and there it was! *yay*

Read More

I’m going to watch Superman Returns this evening. I’ve been waiting this film for a year. The idea of seeing the movie in their first day worldwide gives me exciting feeling. It does the same with some particulars movie I’m interested in. So, while I wait for 20.30, I’ll stay at my desk and do some browsing on the net.

Read More